JAKARTA - Harga beras di tingkat eceran mengalami inflasi meski perekonomian nasional sedang berada dalam deflasi.
Data BPS mencatat rata-rata harga beras naik 3,44 persen secara tahunan, menandakan adanya tekanan harga di komoditas pangan utama. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono, menekankan bahwa kenaikan ini terlihat di seluruh rantai distribusi mulai penggilingan hingga eceran.
Ateng menjelaskan pergerakan harga beras pada Januari terjadi baik secara bulanan maupun tahunan. Di tingkat eceran, inflasi tercatat 0,16 persen month to month dan 3,44 persen year on year. Sementara itu, di tingkat penggilingan, inflasi lebih tinggi yaitu 0,75 persen bulanan dan 6,19 persen tahunan.
Harga beras dihitung berdasarkan rata-rata nasional yang mencakup berbagai kualitas dan wilayah. Hal ini membuat dinamika harga beras terlihat lebih menyeluruh dan representatif. Dengan metode ini, BPS dapat memetakan tekanan inflasi yang terjadi pada semua jenis beras.
Pergerakan Harga Berdasarkan Kualitas Beras
Jika dirinci, beras premium di tingkat penggilingan mengalami kenaikan 2,65 persen month to month dan 8,86 persen year to year. Angka ini menunjukkan kenaikan harga yang relatif signifikan dibandingkan jenis lainnya. Sebaliknya, beras medium justru menurun 0,64 persen bulanan tetapi tetap naik 4,68 persen secara tahunan.
Ateng menambahkan bahwa inflasi di tingkat grosir mencapai 0,4 persen bulanan dan 4,84 persen tahunan. Kenaikan harga beras ini tetap terasa di pasar eceran, meski perekonomian nasional mengalami deflasi. Perbedaan kenaikan harga berdasarkan jenis beras mencerminkan preferensi pasar dan dinamika suplai yang berbeda.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan harga beras tidak sepenuhnya sejalan dengan deflasi. Pasokan yang cukup di beberapa wilayah membantu menahan lonjakan harga. Namun, permintaan untuk beras premium tetap membuat inflasi jenis ini relatif tinggi.
Deflasi Nasional dan Dampaknya pada Inflasi Pangan
Meski harga beras naik, perekonomian Indonesia mencatat deflasi bulanan sebesar 0,15 persen. Penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,92 menjadi 109,75 mencerminkan melemahnya tekanan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran. Hal ini terjadi karena melimpahnya pasokan komoditas pangan hortikultura serta turunnya harga beberapa barang yang diatur pemerintah.
Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi terbesar. Deflasi kelompok ini tercatat 1,03 persen dan memberikan andil sebesar 0,30 persen terhadap deflasi keseluruhan. Komoditas seperti cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah tercatat mendorong deflasi masing-masing sebesar 0,16 persen, 0,08 persen, dan 0,07 persen.
Selain faktor pangan, deflasi juga dipengaruhi penurunan harga bensin dan tarif angkutan udara. Kedua komoditas ini masing-masing memberikan andil 0,03 persen seiring penyesuaian harga BBM non-subsidi serta stabilnya tarif listrik. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan harga di sektor pangan terjadi bersamaan dengan deflasi dari komponen lain.
Tekanan Inflasi Beras di Tingkat Penggilingan dan Grosir
Harga beras di penggilingan meningkat lebih tinggi dibanding eceran. Inflasi beras premium mencapai hampir 9 persen tahunan, sementara medium tetap naik 4,68 persen. Ateng menekankan bahwa kenaikan harga ini terjadi di seluruh rantai pasok dan menunjukkan adanya dinamika pasokan yang berbeda-beda di tiap jenis beras.
Di tingkat grosir, inflasi beras tercatat 0,4 persen bulanan dan 4,84 persen tahunan. Kondisi ini menandakan bahwa harga di pasar grosir masih mengalami tekanan, meski deflasi terjadi di perekonomian secara keseluruhan. Perbedaan antara tingkat penggilingan, grosir, dan eceran menjadi indikator distribusi harga yang penting bagi kebijakan pangan.
Faktor kualitas beras menjadi kunci dalam pergerakan harga. Beras premium yang diminati masyarakat menengah ke atas cenderung naik lebih tinggi. Hal ini sekaligus menyoroti pentingnya pemantauan harga beras berdasarkan kualitas untuk menjaga kestabilan pangan.
Strategi Menghadapi Kenaikan Harga Beras
Pemerintah dan pelaku pasar perlu menyesuaikan strategi menghadapi kenaikan harga beras. Ketersediaan pasokan tetap menjadi kunci untuk menahan inflasi lebih tinggi. Pasokan yang merata di seluruh wilayah membantu menstabilkan harga, meski permintaan meningkat.
Selain itu, pengendalian inflasi juga dapat dilakukan dengan pemantauan rantai distribusi. Dari penggilingan hingga eceran, pengawasan harga memastikan harga tidak melonjak berlebihan. Langkah ini penting agar inflasi tahunan tetap terkendali meski ada kenaikan harga beras tertentu.
Konsumsi beras sebagai kebutuhan pokok masyarakat membuat stabilitas harganya sangat penting. Peran BPS dalam pemetaan harga nasional membantu pemerintah dalam mengambil keputusan. Dengan data yang akurat, kebijakan untuk menjaga keseimbangan harga beras dapat lebih tepat sasaran.
Proyeksi dan Dampak Inflasi Beras ke Depan
Kenaikan harga beras di tengah deflasi menunjukkan adanya tekanan harga spesifik pada komoditas pokok. Inflasi beras yang berbeda antar jenis mencerminkan kebutuhan strategi diferensial. Pemerintah perlu menyiapkan langkah-langkah untuk menahan harga tetap terkendali bagi beras premium dan medium.
Pemantauan distribusi, suplai, dan permintaan menjadi faktor kunci menjaga stabilitas harga. Dengan demikian, inflasi tahunan beras yang mencapai 3,44 persen dapat dikendalikan. Sinergi antara kebijakan pangan, distribusi, dan pemantauan harga menjadi strategi penting untuk menghadapi tantangan inflasi komoditas pokok.
Kondisi ini juga menjadi sinyal bagi masyarakat untuk memahami dinamika harga. Kenaikan harga beras tidak selalu berarti inflasi umum, karena deflasi tetap terjadi di komponen lain. Oleh karena itu, strategi adaptasi dan pemantauan menjadi langkah penting menjaga keseimbangan ekonomi.