Program MBG Dorong Perubahan Sosial dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Selasa, 10 Februari 2026 | 15:41:24 WIB
Program MBG Dorong Perubahan Sosial dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional

JAKARTA - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki peran strategis dalam rantai besar perekonomian Indonesia. 

Program ini dianggap sebagai model big push, sekaligus berfungsi sebagai faktor pendorong dan penarik dalam sistem ekonomi dari produsen hingga penerima manfaat. Dengan MBG, diharapkan terjadi integrasi antara produksi, distribusi, dan konsumsi yang lebih terstruktur di seluruh negeri.

Rachmat menjelaskan bahwa setiap negara memiliki cara berbeda untuk keluar dari jebakan middle income trap, dan MBG menjadi salah satu strategi Indonesia. Program ini diharapkan memicu perubahan struktural yang signifikan di masyarakat. Dorongan besar melalui MBG diharapkan menciptakan efek berganda, baik secara sosial maupun ekonomi.

Ia menekankan pentingnya integrasi data antara anggaran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), belanja dapur, dan keterhubungan belanja dengan penerima manfaat.

Jika semua variabel ini terekam secara akurat, Indonesia akan memiliki basis data yang kuat untuk menilai dampak sosial program MBG. Data ini menjadi dasar untuk memantau perubahan sosial yang terjadi secara nyata.

Integrasi Data untuk Pemantauan MBG

Rachmat menekankan urgensi integrasi data dalam mendukung pelaksanaan program MBG secara komprehensif. RPJMN 2025–2029 juga menekankan pentingnya pemantauan dan evaluasi berbasis data. Integrasi ini akan memastikan setiap langkah program terekam dan dapat dievaluasi secara akurat dari tingkat nasional hingga sub nasional.

Badan Gizi Nasional (BGN) diminta menyusun sistem informasi digital yang mampu mencatat seluruh transaksi, merekam output program, dan mengukur dampak secara menyeluruh. 

Sementara itu, BPS berperan dalam pengumpulan dan verifikasi data di masyarakat untuk memastikan akurasi dan keterpaduan data. Kolaborasi antara BGN dan BPS menjadi fondasi utama dalam menilai keberhasilan program MBG.

Selain itu, mekanisme berbagi-pakai data antar lembaga akan memperkuat pemantauan dan evaluasi. Data BPS akan dimanfaatkan untuk menilai output dan outcome program MBG. 

Integrasi survei seperti Survei Konsumsi Masyarakat Indonesia (SKMI) dan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menjadi langkah penting untuk memastikan dampak program terukur.

Dampak MBG terhadap Perubahan Sosial

Program MBG tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga pada perubahan sosial masyarakat. Dengan adanya gizi yang cukup, penerima manfaat dapat meningkatkan kualitas hidup dan produktivitasnya. Hal ini juga mendorong terciptanya masyarakat yang lebih sehat dan mampu berkontribusi dalam pembangunan nasional.

Rachmat menegaskan bahwa MBG menjadi bagian dari sejarah perubahan sosial di Indonesia. Program ini selaras dengan cita-cita Bung Karno untuk menciptakan bangsa yang kuat dan mandiri. Dengan implementasi yang tepat, MBG diharapkan membantu mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Selain itu, MBG juga mempengaruhi perilaku masyarakat dalam mengonsumsi makanan bergizi. Kesadaran akan pentingnya gizi diharapkan meningkat melalui program ini. Dampak jangka panjangnya adalah terciptanya generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.

Big Push MBG dalam Rantai Ekonomi

MBG berperan sebagai dorongan besar (big push) yang mendorong seluruh rantai ekonomi dari hulu ke hilir. Produsen bahan pangan mendapatkan permintaan stabil, distributor memperoleh aliran barang yang teratur, dan masyarakat penerima manfaat mendapatkan gizi yang cukup. Hal ini menciptakan efek sinergis yang berdampak luas bagi perekonomian nasional.

Rachmat menekankan bahwa pencatatan semua variabel anggaran, belanja, dan distribusi penting untuk menilai efektivitas program. Dengan data yang akurat, evaluasi kebijakan dapat dilakukan secara tepat sasaran. Hasilnya, program MBG menjadi instrumen strategis dalam mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, penguatan koordinasi antara BGN dan BPS menjadi kunci keberhasilan MBG. Data yang akurat memungkinkan perumusan kebijakan berbasis bukti yang lebih efektif. Dengan demikian, MBG tidak hanya sebagai program sosial, tetapi juga sebagai alat pembangunan ekonomi yang komprehensif.

Harapan Kepala Bappenas untuk MBG

Rachmat menegaskan harapannya agar MBG menjadi bagian penting dalam pencapaian Indonesia Emas 2045. Program ini diharapkan menjadi langkah konkret dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Selain itu, MBG diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Ia menambahkan bahwa MBG merupakan wujud nyata penerapan teori perubahan (theory of change) dalam pembangunan sosial dan ekonomi. 

Dengan pemantauan berbasis data dan evaluasi yang tepat, program ini bisa diukur secara komprehensif dari input, proses, output, hingga outcome. MBG diharapkan menjadi program percontohan yang dapat direplikasi di berbagai wilayah di Indonesia.

Rachmat menutup pernyataannya dengan menyampaikan bahwa program MBG menjadi bagian dari strategi besar menuju Indonesia Emas. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga statistik, dan badan gizi menjadi kunci keberhasilan program. 

Dengan implementasi yang konsisten, MBG diharapkan membawa perubahan nyata dalam kesejahteraan sosial dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Terkini