JAKARTA - Upaya percepatan transisi energi bersih di Bali mendapat dorongan nyata melalui pemasangan Pembangkitan Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di tiga desa strategis. Desa Banjarasem di Kabupaten Buleleng, Desa Baturinggit di Kabupaten Karangasem, dan Desa Batununggul di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung kini memanfaatkan energi surya untuk mendukung kebutuhan listrik publik. Program ini dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Bali bekerja sama dengan Institute for Essential Services Reform (IESR).
Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bali, Ida Bagus Setiawan, menegaskan bahwa inisiatif ini sejalan dengan target Bali Net Zero Emission 2045. “Struktur balai desa memang sudah dibuat sedemikian rupa agar bisa dipasangi PLTS, sehingga mempermudah implementasi energi bersih bagi warga,” ujarnya.
Kapasitas dan Manfaat PLTS di Tiga Desa
Di Desa Banjarasem, Buleleng, PLTS atap dipasang dengan kapasitas 3,48 kilo watt peak (kWp) dan baterai berkapasitas 4,8 kWh. Sistem ini mendukung berbagai kegiatan warga di balai desa, termasuk posyandu, kelas ibu hamil, kegiatan olahraga, hingga acara budaya malam hari.
Di Desa Baturinggit, Karangasem, kapasitas PLTS serupa, yakni 3,48 kWp dengan baterai 4,8 kWh. Listrik yang dihasilkan difokuskan untuk mendukung akses air bersih bagi masyarakat sekitar. Sedangkan di Desa Batununggul, Nusa Penida, PLTS atap berkapasitas 5,95 kWp dengan baterai 4,8 kWh dipasang di Kantor Camat untuk mendukung layanan administrasi masyarakat.
Selain itu, PLTS atap juga dipasang di SDN 1 Batununggul dengan kapasitas 2,46 kWp dan baterai 5,12 kWh. Sekolah ini dijadikan percontohan pemanfaatan energi surya di sektor pendidikan, sehingga dapat menjadi model bagi sekolah-sekolah lain di wilayah Bali.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Setiawan menjelaskan, total daya penyerapan energi surya di Bali kini mencapai 50 megawatt (MW). Pemasangan PLTS atap di desa-desa mampu mengurangi tagihan listrik warga hingga 10–40 persen dibanding biaya normal, terutama di daerah Denpasar, Badung, dan sebagian Nusa Penida.
“Dengan semakin banyaknya pemasangan PLTS atap, masyarakat dapat menghemat biaya listrik sekaligus mendapatkan akses energi yang lebih stabil,” jelas Setiawan.
Fabby Tumiwa, Direktur Eksekutif IESR, menekankan bahwa PLTS atap di Desa Banjarasem bukan sekadar pemasangan panel surya. “Ini awal dari perubahan besar. Desa Banjarasem diharapkan menjadi contoh bagaimana energi bersih bisa mendekatkan warga, menghemat biaya, dan membuka akses lebih luas bagi semua,” ujarnya.
Pengalaman Masyarakat
Kepala Desa Banjarasem, Made Sirsa, menjelaskan bahwa pemasangan PLTS atap dimulai pada pertengahan Juli, dan dalam dua hari sistem sudah dapat digunakan. Selama 43 hari awal, konsumsi listrik hanya 2,66 kWh, dengan penghematan sekitar Rp700.000–Rp800.000, meski lampu-lampu belum sepenuhnya terpasang.
“Dengan adanya bantuan ini, aktivitas warga semakin meningkat. Mereka tidak lagi khawatir soal biaya listrik, dan kegiatan balai desa berjalan lebih lancar,” ujar Sirsa.
Selain itu, desa membentuk tim pemantau harian untuk memastikan PLTS berfungsi optimal. Bila terjadi gangguan, tim teknis IESR dapat segera menanganinya melalui video call. Antusiasme warga juga meningkat, banyak yang menanyakan harga panel dan kemungkinan membelinya, menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap energi bersih mulai tumbuh.
Manfaat Jangka Panjang
Pemasangan PLTS atap tidak hanya memberikan manfaat langsung berupa penghematan biaya listrik dan dukungan layanan publik, tetapi juga menjadi media edukasi bagi warga dan generasi muda. Sekolah dan balai desa yang memanfaatkan PLTS menjadi contoh nyata bagaimana energi terbarukan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Inisiatif ini juga mendorong terciptanya budaya hemat energi dan kesadaran lingkungan. Dengan dukungan pemerintah, lembaga non-profit, dan partisipasi masyarakat, Bali diharapkan mampu mempercepat transisi menuju energi bersih, selaras dengan target Net Zero Emission 2045.
Pemasangan PLTS atap di tiga desa di Bali merupakan langkah strategis yang menggabungkan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Program ini tidak hanya mengurangi biaya listrik masyarakat, tetapi juga memperluas akses energi bersih, mendukung layanan publik, serta menjadi percontohan pendidikan dan inovasi komunitas.
Dengan keberhasilan ini, desa-desa lain di Bali maupun wilayah Indonesia berpotensi mengadopsi model serupa, sehingga pemanfaatan energi surya dapat lebih luas, berkelanjutan, dan memberi dampak positif bagi masyarakat serta lingkungan.