JAKARTA - Pemain diaspora Indonesia yang kembali berkarier di Tanah Air menjadi sorotan positif bagi perkembangan sepak bola nasional. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, memberikan apresiasi tinggi atas keputusan mereka bergabung dengan klub-klub BRI Super League musim ini. Bagi Erick, kehadiran para pemain diaspora bukan hanya soal kebanggaan nasional, tetapi juga merupakan hak profesional dan pilihan karier yang membawa nilai tambah bagi kompetisi domestik.
“Mereka datang dengan skill individu yang terasah dan pengalaman internasional yang kaya. Ini bukan sekadar transfer pemain, tapi transfer kualitas dan semangat profesionalisme. Kita harus apresiasi karena itu pilihan karier profesional mereka,” ujar Erick. Pernyataan ini menegaskan bahwa langkah para pemain diaspora adalah kombinasi antara kecintaan terhadap Indonesia dan pertimbangan profesionalisme, sehingga memberikan dampak positif bagi kualitas liga.
Saat ini, tercatat empat pemain diaspora timnas Indonesia yang telah memperkuat klub-klub BRI Super League, yaitu Jordi Amat (Persija Jakarta), Jens Raven (Bali United), Rafael Struick (Dewa United), dan Thom Haye (Persib Bandung). Kehadiran mereka, menurut Erick, tidak hanya meningkatkan kualitas permainan, tetapi juga menambah daya saing dan eksposur internasional bagi liga Indonesia. “Ini bukan hanya soal permainan, tapi tentang bagaimana kita membangun ekosistem kompetitif yang mampu menarik perhatian global,” tambahnya.
Selain dampak positif bagi permainan di lapangan, Erick juga menekankan perlunya penguatan sistem di balik layar. Ia menyoroti pentingnya standarisasi agen pemain yang profesional, untuk mencegah praktik tidak sehat yang bisa merugikan ekosistem sepak bola nasional. “Kita tidak ingin ada agen-agen nakal. Tahun ini, sistem harus diperbaiki. PSSI belum akan intervensi, tapi kami akan mengawal agar perbaikan berjalan seperti saat kami mendorong penggunaan VAR,” tegas Erick.
Langkah ini sejalan dengan pengalaman positif penggunaan VAR dalam pertandingan BRI Super League. Penerapan teknologi tersebut terbukti meningkatkan keadilan di lapangan dan mengurangi kontroversi terkait hasil pertandingan. Erick berharap prinsip serupa bisa diterapkan dalam standarisasi pemain asing dan diaspora, mengikuti praktik terbaik yang diterapkan di liga-liga top dunia.
Menurut Erick, kualitas liga Indonesia harus terus dijaga agar dihormati secara internasional. “Jika kita ingin liga kita dihormati, maka kualitas harus dijaga. Standar pemain asing harus ditingkatkan, seperti di negara-negara lain. Ini bukan hanya soal regulasi, tapi untuk makin naikkan mutu sepak bola Indonesia,” jelasnya. Pernyataan ini menekankan bahwa pengelolaan pemain asing dan diaspora bukan semata formalitas, melainkan bagian dari upaya strategis meningkatkan level kompetisi.
Apresiasi terhadap pemain diaspora juga memiliki dampak psikologis bagi pemain lokal. Kehadiran mereka memberikan teladan profesionalisme, disiplin, dan etos kerja yang dapat diadopsi oleh pemain muda Indonesia. Erick percaya bahwa interaksi antara pemain diaspora, pemain asing, dan lokal akan mendorong peningkatan kualitas teknik, taktik, dan mental bertanding secara keseluruhan.
Selain itu, keberadaan pemain diaspora juga membuka peluang eksposur internasional. Klub-klub BRI Super League yang diperkuat pemain dengan pengalaman di kancah internasional akan lebih mudah menarik perhatian media dan penggemar global. Hal ini berdampak pada citra positif liga Indonesia, sekaligus memberikan insentif bagi sponsor dan pihak terkait untuk lebih serius berinvestasi dalam pengembangan kompetisi.
Dalam konteks pengembangan jangka panjang, Erick menegaskan bahwa profesionalisme dan standar harus berjalan beriringan. PSSI dan pihak pengelola liga memiliki peran penting dalam memastikan regulasi diterapkan secara konsisten. Dengan adanya pengawasan yang ketat terhadap agen pemain, serta standarisasi pemain asing dan diaspora, diharapkan kualitas kompetisi bisa meningkat tanpa harus mengorbankan fair play dan integritas pertandingan.
Tidak kalah penting, Erick menekankan bahwa apresiasi terhadap pemain diaspora bukan sekadar retorika. Ini merupakan pengakuan terhadap usaha mereka untuk memilih karier di Indonesia, serta kontribusi nyata yang mereka berikan bagi kualitas liga dan perkembangan sepak bola nasional. “Ini pilihan karier profesional mereka, dan kita harus menghargai itu,” ujar Erick, menekankan bahwa penghargaan terhadap keputusan individu menjadi bagian dari budaya profesionalisme dalam olahraga.
Kehadiran pemain diaspora juga menjadi momentum untuk menguatkan posisi BRI Super League sebagai kompetisi yang kredibel dan kompetitif. Dengan perpaduan pengalaman internasional, profesionalisme, dan manajemen yang baik, liga domestik dapat terus berkembang, baik dari sisi teknik, finansial, maupun reputasi internasional. Erick berharap, ke depan, langkah-langkah ini bisa menjadi model bagi pengembangan kompetisi olahraga lainnya di Indonesia.
Secara keseluruhan, Erick Thohir menegaskan bahwa apresiasi terhadap pemain diaspora, profesionalisme agen, dan peningkatan standar liga adalah tiga elemen kunci yang harus berjalan beriringan. Kombinasi ini akan memastikan bahwa sepak bola Indonesia tidak hanya kompetitif secara teknis, tetapi juga profesional dan dihormati secara global. Dengan strategi yang tepat, liga nasional bisa menjadi ajang yang membanggakan bagi pemain, klub, dan seluruh pecinta sepak bola Indonesia.