Industri Sepatu

Industri Sepatu Nasional Upayakan Tarif Ekspor ke AS Lebih Kompetitif

Industri Sepatu Nasional Upayakan Tarif Ekspor ke AS Lebih Kompetitif
Industri Sepatu Nasional Upayakan Tarif Ekspor ke AS Lebih Kompetitif

JAKARTA - Industri alas kaki nasional tengah menghadapi tekanan dari kebijakan tarif ekspor ke Amerika Serikat. 

Tarif resiprokal sebesar 19 persen dinilai masih terlalu memberatkan bagi pelaku usaha dalam negeri. Kondisi ini mendorong pelaku industri meminta penyesuaian agar daya saing tetap terjaga.

Asosiasi Persepatuan Indonesia mendorong agar tarif ekspor ke Amerika Serikat dapat ditekan hingga nol persen. Jika belum memungkinkan, tarif diharapkan setidaknya jauh lebih rendah dibandingkan negara pesaing. Langkah tersebut dinilai penting untuk melindungi sektor padat karya.

Dorongan kepada Pemerintah

Upaya pemerintah dalam memperjuangkan kepentingan perdagangan nasional mendapat apresiasi dari pelaku industri. Namun, perjuangan tersebut dinilai belum boleh berhenti, khususnya bagi sektor manufaktur padat karya. Industri alas kaki disebut membutuhkan perhatian khusus agar tidak tertinggal.

Untuk industri alas kaki yang padat karya, tarif resiprokal ke Amerika Serikat diharapkan bisa nol persen atau jauh di bawah 19 persen. Tujuannya agar industri nasional lebih kompetitif dibandingkan Vietnam, Kamboja, Pakistan, Bangladesh, India, hingga China. Tanpa penyesuaian tarif, posisi Indonesia dinilai semakin tertekan.

Dorongan ini muncul di tengah proses penyelesaian perjanjian tarif resiprokal Indonesia dan Amerika Serikat. Skema tarif nol persen disebut baru menyasar komoditas berbasis sumber daya alam tropis. Sementara itu, sektor manufaktur masih menghadapi tarif yang relatif tinggi.

Dampak Tarif terhadap Kinerja Ekspor

Tarif 19 persen untuk produk alas kaki telah berlaku sejak Agustus 2025. Sebelumnya, tarif berada di level 10 persen dan sempat muncul wacana kenaikan hingga 32 persen. Perubahan kebijakan tersebut memberi tekanan signifikan bagi industri.

Sejak tarif 19 persen diberlakukan, tekanan terhadap industri semakin terasa. Dampaknya terlihat pada kinerja ekspor alas kaki Indonesia ke Amerika Serikat. Ekspor pada periode Agustus hingga September 2025 tercatat turun cukup tajam.

Penurunan ekspor tersebut dinilai berkorelasi langsung dengan melemahnya pesanan dari pasar Amerika Serikat. Tarif masuk yang lebih tinggi membuat produk Indonesia kurang kompetitif. Kondisi ini memengaruhi keberlanjutan produksi di dalam negeri.

Risiko terhadap Tenaga Kerja

Penurunan pesanan berdampak langsung pada produktivitas industri alas kaki. Jika kondisi ini berlanjut, risiko pengurangan tenaga kerja menjadi semakin nyata. Situasi tersebut dinilai serupa dengan yang telah terjadi di sektor tekstil.

Industri alas kaki nasional menyerap ratusan ribu tenaga kerja. Dengan tekanan tarif yang tinggi, keberlangsungan lapangan kerja menjadi perhatian utama. Stabilitas sektor ini dinilai penting bagi perekonomian nasional.

Selain tarif, industri alas kaki juga menghadapi tantangan biaya produksi. Kenaikan upah pekerja masih terjadi pada akhir 2025, sementara beberapa negara pesaing tidak menaikkan upah selama dua tahun terakhir. Perbedaan ini semakin memperlemah daya saing industri dalam negeri.

Beban Biaya dan Harapan Jangka Panjang

Biaya produksi industri alas kaki masih tergolong tinggi. Beban tersebut mencakup biaya listrik, gas, impor bahan baku, sertifikasi mesin, hingga pajak jasa subkontrak dan perizinan. Faktor-faktor ini menambah tekanan di tengah tarif ekspor yang tinggi.

Di sisi lain, perluasan pasar melalui perjanjian dengan Uni Eropa masih menunggu proses ratifikasi. Tarif nol persen melalui kerja sama tersebut diperkirakan baru dapat dinikmati pada 2027. Dalam jangka pendek, pasar Amerika Serikat tetap menjadi tumpuan utama.

Berbagai biaya non-produksi juga terus membebani pelaku usaha. Hubungan antara pemerintah, industri, dan pekerja dinilai perlu dijaga agar tercipta perlindungan yang berkelanjutan. Kehadiran negara dinilai penting untuk melindungi industri hingga cukup kuat bersaing secara global.

Dengan lebih dari 960 ribu tenaga kerja yang terserap, industri alas kaki dinilai sebagai sektor strategis. Penurunan tarif ekspor ke Amerika Serikat dianggap kunci menjaga pertumbuhan dan stabilitas sektor ini. Industri alas kaki disebut masih berada pada fase sunrise dan menjadi penyangga penting ekonomi nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index