JAKARTA - Harga minyak mentah dunia menutup perdagangan awal tahun dengan pelemahan tipis.
Kontrak berjangka Brent tercatat turun ke level USD 60,75 per barel, sedangkan WTI Amerika Serikat melemah ke USD 57,32 per barel. Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak 2020, memicu perhatian investor global.
Faktor sentimen pasar menjadi pemicu utama penurunan harga. Kekhawatiran akan pasokan berlebih muncul di tengah risiko geopolitik yang meningkat. Investor menilai kondisi ini sebagai tanda volatilitas harga di awal tahun.
Pasar energi dunia menghadapi ketidakpastian dari berbagai konflik internasional. Perang di Ukraina dan tekanan terhadap ekspor minyak Venezuela menambah kompleksitas. Kondisi ini membuat harga minyak bergerak lebih hati-hati.
Geopolitik Eropa Timur
Ketegangan di Eropa Timur kembali mencuat di awal tahun ini. Upaya mediasi yang dilakukan Presiden AS menghadapi tantangan signifikan. Kedua negara terus saling menuduh serangan terhadap warga sipil meski dialog perdamaian berlangsung.
Ukraina meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia. Tujuannya memutus sumber pendanaan Moskow bagi operasi militernya. Aksi ini menambah ketidakpastian pasokan energi global.
Situasi di Eropa Timur menunjukkan dinamika geopolitik yang tidak mudah diprediksi. Pasar minyak menilai risiko jangka pendek tetap ada. Namun fokus masih pada keseimbangan pasokan dan permintaan global.
Tekanan Pasokan dari Amerika Latin
Amerika Latin menghadapi tekanan tambahan terhadap pasokan minyak. Sanksi terhadap beberapa perusahaan dan kapal tanker Venezuela menimbulkan ketidakpastian. Pemerintah Venezuela menyatakan terbuka terhadap investasi dan kerja sama internasional.
Kebakaran di kompleks militer Venezuela menambah kekhawatiran investor. Laporan serangan udara menimbulkan spekulasi pasar terhadap stabilitas produksi. Meski begitu, harga minyak tidak bereaksi signifikan saat akhir pekan.
Kebijakan dan langkah politik tetap menjadi faktor utama pengaruh harga minyak. Hubungan antara Amerika Serikat dan Venezuela memengaruhi persepsi risiko investor. Pasar energi tetap memperhitungkan risiko tersebut dalam keputusan perdagangan.
Ketegangan Timur Tengah dan Dampaknya
Ketegangan juga meningkat di Timur Tengah dengan aksi protes di Iran. Ancaman intervensi asing menjadi perhatian global. Krisis Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terkait Yaman menambah ketidakpastian pasokan.
Penerbangan di Bandara Aden dihentikan akibat konflik yang memburuk. Serangan udara menimbulkan dampak terhadap distribusi energi regional. Namun, pasar minyak tetap fokus pada fundamental pasokan jangka panjang.
Analis menilai harga minyak terkunci dalam kisaran perdagangan yang relatif stabil. Risiko geopolitik tidak langsung menekan harga secara signifikan. Pasar tetap mempertimbangkan cadangan dan kebijakan produsen utama.
Prospek Pasokan dan Kebijakan Global
Pelaku pasar kini menanti keputusan OPEC+ mengenai produksi minyak. Mayoritas memperkirakan kebijakan menahan kenaikan produksi akan dilanjutkan. Tahun ini dianggap krusial untuk menentukan arah pasokan global.
China diperkirakan menambah cadangan minyak mentah pada paruh pertama tahun ini. Langkah ini memberikan dasar penopang bagi harga minyak. Tren ini penting untuk menyeimbangkan pasar di tengah ketidakpastian geopolitik.
Sepanjang 2025, harga Brent dan WTI turun hampir 20 persen. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam sejak 2020. Pergerakan harga mencerminkan tarik-menarik antara sentimen jangka pendek dan fundamental pasar jangka panjang.
Analis menekankan bahwa pasar minyak tetap dipengaruhi risiko geopolitik dan kelebihan pasokan. Namun stabilitas pasokan dan permintaan menjadi faktor penahan volatilitas. Tahun 2026 menjadi momen penting bagi pasar minyak global.