Liga Indonesia

Rafael Struick: Sisi Lain di YouTube dan Tantangan Gol Liga Indonesia

Rafael Struick: Sisi Lain di YouTube dan Tantangan Gol Liga Indonesia
Rafael Struick: Sisi Lain di YouTube dan Tantangan Gol Liga Indonesia

JAKARTA - Kehidupan pesepakbola profesional di era modern sering kali tidak hanya terbatas pada rumput hijau. Tren ini pulalah yang nampaknya mulai diikuti oleh penyerang andalan Timnas Indonesia, Rafael Struick. Di tengah perjuangannya untuk menemukan sentuhan terbaik di kompetisi domestik, pemain naturalisasi ini justru meluncurkan kanal media sosial baru sebagai wadah komunikasi dengan para penggemarnya.

Kisah penyerang Timnas Indonesia Rafael Struick pilih bikin channel YouTube meski belum mencetak gol di Liga Indonesia atau Super League 2025-2026 akan diulas Okezone. Langkah ini cukup menarik perhatian publik, mengingat ekspektasi tinggi yang selalu mengiringi setiap langkah pemain yang resmi mendapatkan paspor Indonesia pada 22 Mei 2023 tersebut.

Rekam Jejak Karier Profesional dari Belanda Hingga Australia

Menoleh ke belakang, perjalanan karier Struick dimulai dengan prospek yang cukup cerah. Saat mendapatkan paspor Indonesia, Rafael Struick membela klub Liga 2 Belanda, ADO Den Haag. Di sana, ia menimba ilmu dan mulai mendapatkan perhatian dari pencinta sepak bola tanah air berkat gaya mainnya yang enerjik. Namun, perjalanan seorang striker selalu diukur melalui angka-angka di papan skor.

Setelah membela ADO Den Haag, Rafael Struick berlabuh ke klub Liga 1 Australia, Brisbane Roar, pada musim panas 2025. Tantangan di Negeri Kanguru ternyata tidaklah mudah bagi pemain berusia 22 tahun ini. Selama satu tahun membela Brisbane Roar, penyerang ini mengemas satu gol dari 10 pertandingan. Catatan ini menunjukkan bahwa adaptasi di level kompetisi tertinggi memerlukan waktu dan ketajaman yang lebih konsisten.

Puasa Gol di Super League dan Ujian Kedisiplinan

Setahun membela Brisbane Roar, Rafael Struick memutuskan untuk kembali "pulang" dan bergabung dengan klub kasta tertinggi Indonesia, Dewa United. Namun, kepulangannya ke tanah air belum berjalan semulus yang diharapkan. Sepanjang musim 2025-2026, sahabat Ivar Jenner ini baru mencetak satu gol dan satu assist dari 13 pertandingan di semua kompetisi yang diikutinya.

Kondisi di kompetisi domestik ternyata lebih menantang bagi Struick. Khusus di Super League 2025-2026, Rafael Struick sama sekali belum mencetak gol maupun assist dalam 10 pertandingan. Perjuangannya semakin berat ketika ia harus menghadapi sanksi disiplin di lapangan. Ia bahkan sudah menerima kartu merah saat Dewa United kalah 0-1 dari Bhayangkara FC pada 5 Januari 2026. Absensi gol dan kartu merah ini menjadi catatan merah bagi sang penyerang dalam upaya membantu timnya bersaing di papan atas.

Kontribusi Bagi Tim Nasional dan Harapan di Masa Depan

Performa Struick di level klub sering kali berbanding lurus dengan apa yang ditampilkannya bersama Skuad Garuda. Karier internasionalnya mencatatkan statistik yang juga tergolong minim gol. Ia hanya mencetak satu gol dari 23 laga bersama Timnas Indonesia senior. Meskipun secara taktikal perannya seringkali lebih dari sekadar pencetak gol, angka tersebut tetap menjadi bahan diskusi di kalangan pengamat sepak bola.

Prestasi terbaiknya di level usia muda terjadi ketika ia membantu skuad Garuda Muda lolos semifinal Piala Asia U-23 2024. Sebuah pencapaian bersejarah yang sempat melambungkan namanya. Namun, awan mendung kembali datang ketika timnas harus tersingkir di fase grup SEA Games 2025. Hal ini menambah daftar panjang tantangan yang harus dijawab oleh Struick untuk membuktikan bahwa dirinya masih layak menjadi ujung tombak utama.

Fenomena Konten Kreator di Tengah Tekanan Performa

Keputusan untuk merambah dunia digital melalui kanal YouTube di tengah keringnya keran gol tentu memicu beragam reaksi. Bagi sebagian orang, ini adalah cara pemain untuk membangun personal branding dan mendekatkan diri dengan fans. Namun bagi sebagian lainnya, fokus sang pemain dipertanyakan. Memang, membangun komunikasi melalui media sosial adalah hak setiap individu, namun di dunia sepak bola yang kejam, hasil di lapangan tetap menjadi prioritas utama.

Kini, tantangan bagi Rafael Struick adalah menyeimbangkan kehidupannya sebagai "YouTuber" dengan tanggung jawabnya sebagai mesin gol Dewa United dan Timnas Indonesia. Dengan usia yang masih 22 tahun, waktu untuk memperbaiki catatan statistik masih terbuka lebar. Publik tentu berharap aksi-aksi hebatnya segera beralih dari layar monitor ke dalam jala gawang lawan di pertandingan resmi berikutnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index