Petani

Inovasi Pertanian Regeneratif: Petani Lampung Ubah Tanah Asam Jadi Kopi Rendah Emisi

Inovasi Pertanian Regeneratif: Petani Lampung Ubah Tanah Asam Jadi Kopi Rendah Emisi
Inovasi Pertanian Regeneratif: Petani Lampung Ubah Tanah Asam Jadi Kopi Rendah Emisi

JAKARTA - Kesadaran akan kelestarian lingkungan kini menjadi napas baru bagi industri kopi di tanah air. Di tengah ancaman degradasi lahan yang menghantui para pekebun di Lampung Utara, sebuah gerakan pertanian regeneratif muncul sebagai titik balik. Perubahan paradigma dalam mengelola alam terbukti mampu menyelamatkan asa para petani yang sebelumnya sempat nyaris menyerah akibat kondisi tanah yang semakin tidak produktif dan asam.

Transformasi ini bukan sekadar upaya meningkatkan hasil panen, melainkan sebuah misi besar untuk menciptakan rantai pasok kopi yang lebih hijau dan rendah emisi. Melalui bimbingan teknis dan inovasi teknologi, para petani kini membuktikan bahwa menjaga ekosistem tanah justru menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan ekonomi mereka.

Titik Balik dari Frustrasi Menuju Keberlanjutan

Kisah inspiratif ini datang dari Solihin, seorang petani kopi yang menjadi peserta demoplot Louis Dreyfus Company (LDC). Sebelum mengenal praktik pertanian regeneratif, Solihin harus berhadapan dengan kenyataan pahit mengenai kondisi lahannya yang memburuk. Tingkat keasaman tanah yang tinggi menjadi kendala utama yang menghambat pertumbuhan tanaman kopinya.

“Semenjak bimbingan dari LDC, saya mengubah pola pertanian kopi saya sedikit-sedikit. Alhamdulillah, jadi ada perkembangan,” ungkap Solihin dalam acara bertajuk "Regenerative Agriculture" yang diselenggarakan di Jakarta, Kamis.

Data lapangan menunjukkan bahwa pH tanah di lahan milik Solihin hanya berada pada kisaran 5,3 hingga 5,6. Angka tersebut jauh dari standar ideal pertumbuhan kopi yang seharusnya berada pada rentang 6 sampai 7. Tekanan ekonomi dan kegagalan panen akibat tanah yang "sakit" tersebut hampir membuatnya berpaling dari budidaya kopi.

“Dulu sekitar tahun 2020, saya sudah frustrasi karena kondisi tanah seperti itu. Saya berniat mau alih jadi petani kelapa sawit,” ujarnya mengenang masa-masa sulit tersebut. Namun, pendampingan yang intensif akhirnya mengubah niat tersebut dan memberinya keyakinan baru pada tanaman kopi.

Strategi Pemangkasan Input Kimia Tanpa Mengorbankan Hasil

Salah satu pilar utama dalam pertanian regeneratif adalah pengurangan penggunaan bahan kimia sintetis yang selama ini dianggap sebagai solusi instan namun merusak jangka panjang. Melalui kolaborasi antara LDC dan Pandawa Agri Indonesia, para petani didorong untuk meminimalkan input kimia tanpa harus khawatir akan penurunan produktivitas.

Kukuh Roxa, CEO Pandawa Agri Indonesia, menjelaskan bahwa fokus utama inovasi mereka adalah menciptakan keseimbangan antara hasil panen dan kelestarian tanah. “Fokus kami adalah menghadirkan inovasi pertanian yang membantu mengurangi ketergantungan pada input kimia tanpa menurunkan hasil panen,” tutur Kukuh.

Dampak dari inovasi ini tidak main-main bagi lingkungan global. Teknologi yang diterapkan diklaim telah berkontribusi signifikan pada pengurangan penggunaan pestisida hingga lebih dari 5 juta liter. Lebih dari itu, langkah ini berhasil menekan emisi gas rumah kaca sekitar 17.500 ton CO2 di wilayah operasional Indonesia dan Malaysia.

Sejak tahun 2021, inisiatif yang melibatkan petani padi dan kopi ini telah berhasil mereduksi sekitar 2.000 ton CO2 ekuivalen. Pencapaian ini diraih melalui manajemen air yang lebih efisien, pengaturan nutrisi yang tepat, serta pemangkasan pestisida secara drastis. Solihin sendiri mengakui adanya perubahan nyata di kebunnya. “Biasanya kami memakai obat kimia seperti racun rumput hingga 100 persen, tapi sekarang sudah berkurang menjadi 50 persen,” jelasnya.

Pemanfaatan Biochar dan Konsep Agroforestri Modern

Inovasi lain yang diperkenalkan kepada para petani adalah penggunaan biochar. Taufiq, salah satu petani kopi yang terlibat dalam program ini, membagikan pengalamannya menggunakan material yang menyerupai arang tersebut untuk memperbaiki struktur tanah. Biochar berfungsi sebagai pembenah tanah yang sangat efektif dalam mengikat air dan zat hara.

“Biochar itu sejenis arang. Arang itu menyimpan rongga-rongga untuk menyimpan air dan nutrisi,” kata Taufiq. Dengan pori-pori yang dimiliki biochar, tanah yang tadinya padat dan asam perlahan menjadi lebih gembur dan mampu menyediakan asupan makanan yang cukup bagi akar kopi, terutama saat musim kemarau tiba.

Selain perbaikan struktur tanah, program ini juga mengedukasi petani mengenai pentingnya sistem agroforestri. Para petani didorong untuk menanam pohon buah di sela-sela tanaman kopi sebagai pohon penaung. Selain berfungsi melindungi tanaman kopi dari paparan sinar matahari langsung, pohon-pohon ini memberikan manfaat ekonomi tambahan bagi petani melalui hasil buahnya.

Komitmen Global LDC dalam Rantai Pasok Berkelanjutan

Kehadiran Louis Dreyfus Company (LDC) di Indonesia sejak tahun 1999 telah memberikan dampak luas pada berbagai lini komoditas, mulai dari kopi, kapas, biji-bijian, hingga minyak nabati. Sebagai perusahaan global, LDC menjadikan Indonesia sebagai bagian penting dalam ekspansi praktik pertanian regeneratif di seluruh rantai pasok dunianya.

Program regeneratif ini diharapkan menjadi standar baru bagi industri kopi nasional. Dengan tanah yang lebih sehat, emisi yang lebih rendah, dan kesejahteraan petani yang meningkat, masa depan kopi Indonesia diharapkan tetap tangguh di tengah tantangan perubahan iklim global. Transformasi di Lampung Utara menjadi bukti nyata bahwa keselarasan dengan alam adalah investasi terbaik bagi masa depan pertanian Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index