PELNI

Kapal Logistik PELNI Jaga Harga Sembako 3TP

Kapal Logistik PELNI Jaga Harga Sembako 3TP
Kapal Logistik PELNI Jaga Harga Sembako 3TP

JAKARTA - Di tengah tantangan geografis dan ketimpangan distribusi logistik nasional, peran transportasi laut menjadi krusial, khususnya dalam menjangkau daerah-daerah 3TP (tertinggal, terdepan, dan perbatasan). PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau PELNI menjawab tantangan ini melalui pelayaran kapal logistik yang secara nyata membantu menjaga stabilitas harga barang pokok dan penting (bapokting) serta menjamin ketersediaannya di wilayah-wilayah terpencil Indonesia.

Langkah strategis ini bukan semata menjalankan penugasan dari pemerintah, melainkan juga menjadi bagian dari upaya pemerataan ekonomi nasional yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat di daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh moda transportasi darat dan udara.

Direktur Utama PT PELNI, Tri Andayani, mengungkapkan bahwa kapal logistik PELNI terbukti mampu menekan disparitas harga barang kebutuhan pokok secara signifikan. Di wilayah Indonesia Timur, misalnya, harga bapokting bisa ditekan hingga 40 persen berkat keberangkatan kapal logistik yang terjadwal secara rutin.

“Secara variatif, disparitas harga barang pokok dan penting dapat ditekan hingga 40 persen. Hal ini tentunya dapat membantu perekonomian masyarakat, terutama masyarakat kepulauan 3TP yang merasakan peranan pemerintah dalam pemerataan ekonomi melalui penugasan kapal logistik PELNI ke wilayah mereka,” ujar Tri Andayani.

Jadwal keberangkatan yang pasti dari kapal logistik PELNI memberikan kepastian bagi para pelaku usaha dan distributor. Ketepatan waktu pengiriman ini memungkinkan mereka mengatur distribusi dan harga secara lebih efisien, menghindari lonjakan harga karena keterlambatan atau kelangkaan stok.

Penurunan harga ini bahkan terjadi merata di seluruh kawasan Indonesia, dari barat hingga timur. Di wilayah barat seperti Kabupaten Simeulue, Anambas hingga Natuna, harga barang pokok seperti beras, terigu, gula, minyak goreng, dan daging sapi turun di kisaran 5 hingga 17 persen. Wilayah tengah, seperti Kabupaten Nunukan, Kepulauan Sangihe, hingga Sabu Raijua, mencatat penurunan harga antara 6 hingga 33 persen. Sedangkan di wilayah timur seperti Kabupaten Seram Bagian Barat, Fakfak, dan Kepulauan Tanimbar, disparitas harga berhasil ditekan antara 13 hingga 48 persen.

Tri Andayani menegaskan, “Melalui penugasan pemerintah, kami berkomitmen untuk memastikan kesiapan alat produksi kami agar dapat berlayar sesuai jadwal dan konsisten memberikan jaminan ketersediaan angkutan yang terjangkau dan diandalkan masyarakat.”

Komitmen tersebut terlihat dari kinerja logistik perusahaan yang terus menunjukkan perkembangan. Sejak ditugaskan mulai 2015, kapal logistik PELNI telah berhasil mengangkut 86.023 TEUS dalam 1.074 pelayaran atau voyage. Untuk semester pertama tahun 2025, yaitu dari Januari hingga Juni, perusahaan mencatat peningkatan signifikan dengan realisasi pengangkutan sebanyak 5.849 TEUS—naik 102 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Penugasan kapal logistik PELNI tahun ini mencakup delapan trayek utama yang melayani total 52 pelabuhan. Selain itu, PELNI juga menyiapkan satu kapal logistik cadangan, dengan total kapasitas angkut mencapai 1.151 TEUS sekali berlayar.

Tak hanya bergerak di bidang logistik barang pokok, PELNI juga tetap menjalankan layanan angkutan penumpang sebagai bagian dari kontribusinya dalam meningkatkan konektivitas antarwilayah. Perusahaan saat ini mengoperasikan 25 kapal penumpang yang melayani 511 ruas dengan 1.359 rute, menyinggahi total 74 pelabuhan di seluruh Indonesia.

Dalam upaya mendekatkan layanan transportasi ke masyarakat terpencil, PELNI juga menjalankan 30 trayek kapal perintis yang berfungsi sebagai sarana aksesibilitas utama bagi penduduk di wilayah 3TP. Kapal perintis ini singgah di 230 pelabuhan dengan total 522 ruas pelayaran. Selain itu, terdapat pula 18 kapal rede (kapal penumpang regional) yang memperkuat jaringan layanan di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.

Untuk mendukung bisnis logistik yang semakin berkembang, PELNI juga mengoperasikan delapan trayek tol laut dan satu trayek khusus untuk pengangkutan ternak. Hal ini menunjukkan perluasan fungsi logistik laut tidak hanya terbatas pada bapokting, tetapi juga mencakup kebutuhan spesifik seperti pengiriman hewan ternak yang memerlukan penanganan khusus.

Kehadiran kapal logistik PELNI bukan sekadar menjalankan penugasan formal dari pemerintah, melainkan telah menjadi instrumen nyata dalam mendukung stabilitas ekonomi, khususnya di wilayah dengan tantangan logistik tinggi. Dengan tarif yang terjangkau dan jadwal pelayaran yang konsisten, masyarakat di wilayah 3TP kini memiliki harapan akan akses pangan yang lebih adil dan merata.

Apa yang dilakukan oleh PELNI menunjukkan bahwa solusi logistik berbasis laut bukan hanya strategi bisnis, tetapi juga alat efektif untuk membangun keadilan sosial dan ekonomi. Pemerataan harga bahan pokok adalah indikator penting dalam menciptakan stabilitas nasional dan dalam hal ini, kapal logistik PELNI telah menjalankan peran vital tersebut.

Dengan pendekatan jangka panjang dan strategi operasional yang terarah, kapal logistik PELNI tak hanya memperkuat fondasi ekonomi lokal, tetapi juga membuka peluang percepatan pembangunan di kawasan 3TP. Keberhasilan ini diharapkan menjadi model yang bisa direplikasi dalam upaya pemerataan pembangunan nasional berbasis maritim.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index