Anies Baswedan

Anies Baswedan: Demokrasi Hidup Jika Ada Oposisi

Anies Baswedan: Demokrasi Hidup Jika Ada Oposisi
Anies Baswedan: Demokrasi Hidup Jika Ada Oposisi

JAKARTA - Diskusi tentang arah demokrasi Indonesia kembali mengemuka lewat pemikiran Anies Baswedan. Dalam kuliah umum yang digelar di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) bertajuk Notonagoro Public Lecture: “Masa Depan Pemerintahan Negara Hukum dan Demokrasi”, Anies menekankan bahwa demokrasi hanya bisa bertahan hidup apabila terdapat oposisi yang sehat, kebebasan berbicara yang dijamin, serta penegakan hukum yang benar-benar independen.

Dalam pernyataannya, Anies menegaskan bahwa demokrasi tidak bisa hanya dipandang sebagai rutinitas politik lima tahunan. Menurutnya, demokrasi adalah bangunan institusional yang harus terus dipelihara agar mampu menjamin keadilan dan kesejahteraan seluruh rakyat.

“Bersyukur bisa kembali ke kampus UGM, kali ini di Fakultas Hukum. Ruang kuliah penuh, wajah-wajah muda dengan semangat besar hadir menyimak,” ujarnya dikutip dari akun Instagram resminya.

Perjalanan Demokrasi Pasca-Reformasi

Anies membahas panjang lebar tentang perjalanan demokrasi Indonesia sejak era reformasi. Ia menyebut bahwa lebih dari dua dekade lalu, bangsa ini mengambil langkah berani dengan menerapkan demokratisasi sekaligus desentralisasi. Keputusan tersebut memang membuka jalan bagi kebebasan politik, tetapi di saat yang sama meninggalkan sejumlah pekerjaan rumah yang belum terselesaikan hingga kini.

“Sebuah langkah berani, namun menyisakan banyak pekerjaan rumah,” kata Anies.

Hal ini menunjukkan bahwa demokrasi bukanlah sistem yang otomatis sempurna hanya karena diberlakukan. Perlu ada proses perbaikan berkelanjutan agar sistem tetap relevan dengan tantangan zaman.

Demokrasi Perlu Terus Ditingkatkan

Lebih lanjut, Anies menekankan bahwa demokrasi ibarat sebuah sistem yang harus terus di-upgrade. Tujuannya agar institusi politik semakin matang, kokoh, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat luas.

“Karena itu demokrasi perlu terus di-upgrade, agar sistemnya semakin matang dan kokoh,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa demokrasi sejati bukan hanya soal prosedur pemilu, tetapi juga soal bagaimana hukum ditegakkan secara adil, kebebasan berbicara dihormati, dan oposisi diberi ruang untuk mengkritisi jalannya pemerintahan. Tanpa itu semua, demokrasi hanya akan menjadi formalitas belaka.

Ruang Oposisi dan Kebebasan Berbicara

Anies menyampaikan bahwa oposisi merupakan elemen penting yang menjaga keseimbangan dalam sistem demokrasi. Tanpa adanya oposisi, pemerintahan bisa berjalan tanpa kontrol dan berpotensi menyalahgunakan kekuasaan.

“Demokrasi hanya akan hidup bila ada ruang bagi oposisi, kebebasan berbicara, dan penegakan hukum yang independen,” tegasnya.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya berpikir kritis sebagai landasan lahirnya kreativitas dan inovasi. Menurutnya, mahasiswa dan generasi muda memiliki peran vital dalam memastikan demokrasi tetap berjalan sesuai dengan jalurnya.

Optimisme pada Generasi Muda

Dalam kuliah umum tersebut, Anies menaruh harapan besar kepada mahasiswa yang hadir. Ia melihat generasi muda sebagai kelompok yang dapat menjaga agar demokrasi Indonesia tetap sehat dan berorientasi pada kepentingan rakyat banyak.

“Optimisme itu tetap ada. Dengan komitmen dan integritas, generasi muda seperti yang hadir hari itu akan menjaga demokrasi tetap berada di relnya, dan memastikan Indonesia terus melangkah sebagai negara hukum yang demokratis,” ungkapnya.

Tantangan Demokrasi Indonesia

Meski demokrasi Indonesia telah berjalan lebih dari dua dekade, tantangan masih terus bermunculan. Salah satunya adalah menjaga independensi penegakan hukum. Anies menilai, jika hukum tidak ditegakkan secara adil dan bebas dari intervensi politik, maka demokrasi bisa kehilangan maknanya.

Selain itu, menjaga kebebasan berbicara juga menjadi pekerjaan rumah yang tidak ringan. Di era digital, ruang publik memang semakin terbuka, namun sekaligus memunculkan tantangan baru terkait ujaran kebencian, disinformasi, dan polarisasi.

Anies mengingatkan bahwa kebebasan berbicara harus tetap dipertahankan, namun dengan tanggung jawab agar tidak menimbulkan keretakan sosial.

Demokrasi Sebagai Proyek Kolektif

Apa yang disampaikan Anies mencerminkan pandangan bahwa demokrasi bukanlah proyek sesaat, melainkan perjalanan panjang yang harus dijaga bersama. Ia menekankan, demokrasi hanya bisa berkembang jika setiap elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga generasi muda, ikut terlibat aktif dalam merawatnya.

Kuliah umum tersebut tidak hanya menjadi ajang refleksi, tetapi juga menggarisbawahi urgensi pembaruan demokrasi. Dengan berbagai tantangan yang ada, Indonesia perlu memastikan bahwa sistem demokrasi tetap menjadi sarana untuk menghadirkan keadilan, kepastian hukum, serta kesejahteraan.

Pesan utama yang disampaikan Anies Baswedan menegaskan kembali bahwa demokrasi tidak bisa dipisahkan dari oposisi, kebebasan berbicara, serta penegakan hukum yang independen. Ketiga hal ini menjadi pondasi yang akan memastikan demokrasi di Indonesia tetap hidup dan relevan.

Melalui kuliah umum di UGM, Anies tidak hanya memberikan analisis tentang perjalanan demokrasi, tetapi juga menyampaikan optimisme bahwa dengan integritas dan komitmen, generasi muda akan menjadi penjaga masa depan demokrasi Indonesia.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index